Monday, 18 April 2016

Apakah yang kita nantikan?

By: nk
#direvisipapidulu

GMIKA/IM/170416/18.00wib/AEP/SotoSulung

Maz 62:6-8
Saat Daud bermazmur, karena Daud sedang menantikan keselamatan Tuhan.

Setiap kita mempunyai hati yang menunggu sesuatu. Persoalannya apa yang kita tunggu itu benar atau tidak? Harus diuji dulu.

Ada 2 syarat saat kita menunggu sesuatu:
1. Kita harus senang menunggu sesuatu, senang menantinya
(contoh menunggu kelahiran anak, menanti panggilan pekerjaan, menanti untuk menjadi juara)
2. Menunggu harus mempunyai pengaruh positif/baik untuk diri sendiri (Kekristenan) menuju kepada penyesuaian yang kita tunggu.

Menanti kedatangan Yesus -  harus senang menunggu dan mempengaruhi diri untuk semakin sesuai seperti yang Allah mau

Kel 8 : 1
Israel dipanggil Tuhan dari  Mesir ke padang gurun, bukan untuk makan minum / menyaksikan perbuatan Tuhan yang ajaib tetapi hanya untuk bersekutu dengan Allah.
Sampai saat ini pun tidak ada panggilan tertinggi orang percaya selain bersekutu dengan Dia.
Tidak ada panggilan dalam diri kita selain bersekutu

Bersekutu artinya mau masuk daam rencana dan kehendakNya untuk kita dapat dinikmati oleh Allah.
Kenikmatan tertinggi kita (ciptaan) adalah saat kita dapat dinikmati Allah (Pencipta), Pencipta memakai kita, jangan sampai kita menjadi "produk gagal" di mata Tuhan, artinya Tuhan tidak dapat dinikmati Tuhan.
Ajar anakmu, RTmu FT supaya kita semua dipakai oleh Tuhan, jangan pernah ada di luar garis kuning.
Menunggu itu pasti berhubungan dengan waktu, berjalan dalam kedaulatan Allah.

Albert. E berkata :
Sebuah kebetulan jika Allah didalamnya,bukan sebuah kebetulan tetapi rencana waktu Allah bertahta dalam kebetulan itu

Jangan pernah melakukan suatu transaksi kehidupan (perpindahan, pertukaran, penyertaan) jika tidak digerakkan oleh Tuhan Allah kita.
Segala sesuatu akan membuat kita tenang waktu IA melakukannya sendiri buat kita. (Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang). Orang yang tahu bahwa harapannya adalah Allah saja, ia adalah orang yang paling tenang dalam hidup ini.
 
Tanyakan kpd diri kita, apakah yang sedang kita nantikan? Jika yang kita nantikan tidak memiliki  hubungan dengan Allah (sesuatu yang semu) maka kita adalah "produk gagal"

Pengkhotbah...
Hidup ini adalah seperti tikungan tidak lurus terus, tikungan siap menerkam laksana beruang.

Biarkan segala sesuatu bertumbuh sesuai anugerah Tuhan. TJ orangtua hanya kepada anak, orangtua yang menitipkan anaknya ke opa omanya itu bukan kebenaran. Berani menikah berarti berani mendidik anakmu, berani mengajar, jangan serahkan anakmu ke orang lain, itu namanya pemberontakan kepada Allah.
Tinggalkan kesalahan di masa lalu, bertumbuhlah dalam kebenaran, nantikanlah Tuhan.

"Menanti" adalah jabatan/tugas Kekeristenan yang tidak bisa ditolak, sebab Alkitab berisi dengan kisah-kisah penantian.
Hidup tidak boleh didasari oleh ilmu matematika,  tapi biar Tuhan yang bekerja mengatasi logika.
Tuhan aku menantikan Engkau, selebihnya Tuhan yang atur, aku pasrah kepadaMu supaya aku tidak menjadi ciptaan yang gagal. Dengarlah suara Tuhan.

Wahyu 2:7
Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Roh kepada jemaat-jemaat.

Jangan tinggalkan kemah suci, sebab di kemah ini penuh dengan darah. Darah ini yang meredakan amarah Bapa, tanpa darah amarah Bapa tidak ada habisnya.
 
Siapkan dirimu menantikan sesuatu yang benar.
 

No comments: