No :GMIKA/SuaraPenggembalaan/030821
Judul : SIAP MENDERITA BERSAMA
KRISTUS
Bacaan : FILIPI 3:10-17
Setiap orang percaya yang ingin
disempurnakan seperti Yesus harus mengalami apa yang Yesus alami. Jika
diilustrasikan dengan perlombaan kelas dunia, maka seseorang yang hendak
memenangkan perlombaan tersebut harus memiliki kualitas kelas dunia. Jika
seseorang ingin menjadi seperti Yesus, ia harus mengalami seperti yang dialami
Yesus. Sama halnya dengan Paulus ketika ia berkata,
(ayat 10-11)
“Yang
kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam
penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.”
Paulus menyadari bahwa panggilan
hidup seperti Yesus berarti turut serta dalam kematian-Nya. Seseorang yang
hendak mengikut Tuhan Yesus harus mengalami apa yang Ia alami, sampai tahap
kematian dari seluruh keinginan. Oleh karenanya, jika Tuhan diludahi, dipukul,
difitnah, maka tidak heran apabila kita pun harus mempersiapkan diri
menghadapi semua itu dari orang lain yang kita temui.
Tuhan mengajarkan kita apa yang
Dia sendiri jalani. Di sinilah letak keagungan dari kekristenan kita , yakni
kita dapat menjalani apa yang Tuhan telah jalani.
(Mat. 5:38-39).
"Kamu telah mendengar firman: Mata ganti
mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan
orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi
kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu"
Artinya bahwa jikalau seseorang berbuat kejahatan, kita
tidak boleh membalasnya dengan kejahatan.
Sebaliknya, kita dikehendaki
untuk mengampuninya. Ketika seseorang mengasihi sesamanya dengan
tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, maka Tuhan katakan ia memancarkan
watak anak Allah.
(Mat. 5:44-45)
Tuhan
berkata, “Tetapi Aku berkata kepadamu : "Kasihilah musuhmu dan
berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, karena dengan demikianlah kamu
menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga,”
Jadi, keberadaan sebagai anak
Bapa ditunjukkan dengan karakter yang sama dengan Tuhan Yesus, yakni mengasihi
sesama dengan mengampuni.
Akan tetapi, suatu hal yang tidak
dapat dibantah adalah mengampuni orang bukan saja bisa dilakukan oleh orang
Kristen. Orang-orang yang beragama lain (misalnya agama Buddha) juga
mengajarkan pengampunan, bahkan tidak
membalas kejahatan musuh dengan kejahatan. Dalam agama Kejawen juga
mengajarkan penganutnya untuk mengalah. Filosofinya adalah "Ngalah Luhur Wekasani"
yang artinya mengalah untuk menang.
Hal ini menunjukkan bahwa di luar Kristen terdapat banyak pandangan yang luhur.
Oleh karenanya, kekristenan seharusnya memiliki kebenaran yang lebih dari itu
karena kita memiliki standar untuk menjadi anak-anak Allah. Namun faktanya,
tidak sedikit orang Kristen sulit mengampuni orang, bahkan ada yang sengaja
melukai, menyakiti, merusak nama baik orang, dan memfitnah.
Sebab itu Tuhan berkata,
Matius 6:14 (TB)
"Karena
jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni
kamu juga.”
Tuhan menujukan hal ini kepada
orang percaya sebagai hal yang harus diperjuangkan dengan sungguh. Tuhan tidak
membuat seseorang dapat mengasihi atau mengampuni. Seakan-akan ketika menerima
Tuhan Yesus, orang percaya langsung bisa mengasihi orang lain karena diubah
hatinya oleh Tuhan. Kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengasihi
setiap orang, baik mereka yang berpihak atau berlawanan dengan kita. Bagi
mereka yang berlawanan dengan kita, hendaknya setiap kita mampu mengampuni
mereka. Hal ini kita lakukan karena kesadaran kita sebagai anak-anak Allah yang
harus mencerminkan pribadi Bapa kita. Jika kita tidak mengampuni orang lain,
kita akhirnya tidak berkeadaan sebagai anak.
Dengan demikian, berkualitas
seperti Yesus adalah sebuah kemutlakan. Kita harus bersedia mengalami apa yang
telah dialami oleh-Nya. Mengalami apa yang dialami Tuhan berarti bersedia masuk
dalam penderitaan untuk menjadi serupa dengan Dia.
Roma 8:17 (TB) "Dan
jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang
yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama
dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita
juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia."
Proses untuk menderita bersama
Kristus tdk lah mudah, namun ini adalah proses bagi setiap kita yg mau menjadi pewaris janji Allah dalam
kekekalan.
Mereka yang dipanggil menjadi
anak harus mengalami hal yang sama dengan yang dihadapi oleh Yesus, yakni masuk
dalam penderitaan. Hanya dengan masuk dalam
penderitaanlah setiap orang di dalam Tuhan dapat dimuliakan bersama dengan-Nya.
Dalam konteks pengampunan, penderitaan dapat diartikan sebagai perasaan sakit
atau tidak nyaman ketika mengampuni seseorang tanpa syarat. Hal ini harus kita
gumuli dan hidupi dengan serius agar kita mengambil bagian dalam penderitaan bersama
dengan Tuhan.
No comments:
Post a Comment